Brain Rot: Ancaman Media Sosial Akibat Konten Receh? - ahmad hanif

Brain Rot: Ancaman Media Sosial Akibat Konten Receh?

Brain Rot: Ancaman Media Sosial Akibat Konten Receh?

 Photo by Gaspar Uhas on Unsplash


Media sosial tidak berhenti jadi gula dalam tubuh manusia. Gula masih dibutuhkan manusia, tapi kalau berlebihan akan merusak diri kita sendiri.

Di sisi lain, media sosial itu bersifat barang publik, semakin banyak pengguna semakin banyak perilaku baru yang muncul. Seperti menetapkan standar pasangan sesuai ekspetasi TikTok, makan sambil nonton Youtube, atau sekedar menghibur diri dengan konten receh dan lucu.

Memang, kita tidak bisa mengontrol apa yang tersedia di media sosial. Karena semua orang bisa berekspresi di media sosial, entah itu negatif maupun positif.

Ketika mengkonsumsi konten yang tidak bermutu dalam waktu lama bisa memicu penurunan kondisi mental dan intelektual kita, atau disebut dengan "Brain Rot."

Apa itu Brain Rot?


Brain Rot atau pembusukan otak adalah dugaan kemunduran secara mental dan intelektual seseorang khususnya diakibatkan dari konsumsi konten yang bermutu rendah secara berlebihan. Brain rot terpilih menjadi kata atau frasa Oxford tahun ini.

Istilah brain rot juga menjadi tren akhir-akhir ini, karena menjadi bahasa slang khas gen Z dan gen Alpha yang dihasilkan dari aktivitas daring yang lama di media sosial.

Namun, istilah ini keluar sejak 1854 di buku Henry David Thoreau: Walden yang melaporkan pengalamannya menjalani gaya hidup sederhana di alam.

"Sementara Inggris berusaha untuk menyembukan pembusukan kentang, tidakkah ada upaya untuk menyembuhkan pembusukan otak – yang menyebar jauh lebih luas dan fatal?"

Pesan yang disampaikan dari kata pembusukan otak di penggalan buku tersebut adalah mengkritik kecenderungan masyarakat saat itu yang merendahkan nilai ide-ide kompleks, atau yang dapat ditafsirkan dalam banyak cara, demi yang sederhana.

Bagaimana Brain Rot bisa terjadi?


Sama halnya dengan perilaku-perilaku kita ketika menggunakan media sosial, sebenernya hanya berusaha mencari kebahagiaan, kesenangan, bahkan tidak mau ketinggalan secara cepat dan instan.

Tidak mau kalau dikasih sesuatu yang rumit. Artinya, males mikir, maunya hidup yang instant gratification – keinginan untuk segera merasakan kepuasaan – tidak mau nanggung masalah.

Semial standar TikTok, pemikiran seperti itu akan menurunkan kemampuan berpikir secara mendalam. Kita belum tahu, apakah informasi itu benar-benar baik? Bisa saja kamu setuju hanya karena relate dengan idenya atau punya visi mimpi yang sama. Alih-alih berekspeptasi kesempurnaan.

Atau aktivitas makan sambil nonton Youtube, kayak ngerasa ada yang kurang kalau tidak nonton. Memang bisa, tapi sebaiknya melakukan satu pekerjaan dalam satu waktu. 

Multitasking itu bukan hal istimewa, multitasking akan membuat fokus konsentrasi seseorang terpecah. Sehingga jika terus menerus terbiasa, mungkin akan sulit berkonsentrasi satu hal.

Kasus seperti ini membuat rentang konsentrasi manusia terus menurun, pada 2012 orang bisa berkonsenntrasi hanya 75 detik, sedangkan 5 tahun terakhir tinggal 47 detik saja.

Ada lagi, zombie scrolling yaitu scrolling terus-menerus tanpa ada tujuan. Kebiasaan orang biasanya cuma berniat ingin istirahat sesaat, menghibur diri. 

Ketika kita sampe tidak sadar terus-terusan mengkonsumsi konten-konten itu, mau tidak mau kita juga menerima informasi entah positif atau negatif. Dan sebenernya membuat otak kita lelah karena banyak informasi yang masuk.

Bagaimana cara mencegah Brain Rot?


Beberapa artikel, video, jurnal yang membahas soal brain rot akan menyarankan untuk berhenti doom scrolling, membatasi penggunaan ponsel dengan screen time, atau mengalihkan dengan aktivitas fisik.

Menurut penelitian, yang paling penting dari kasus pembusukan otak ini yaitu mengurangi jumlah dan intensitas konsumsi informasi. 

Kesimpulannya adalah brain rot tidak bisa diselesaikan hanya dengan kampanye, memberi tahu bahayanya, menghimbau agar megurangi penggunaannya. 

Media sosial adalah hak berdemokrasi, siapa saja boleh bersuara, siapa saja boleh membuat konten, bahkan kampanye pilpres menggunakan media sosial. 

Sampai saat ini, platform media sosial berlomba-lomba untuk mengembangkan produk mereka tanpa memikirkan dampak bagi kehidupan masyarakat. Tidak peduli kamu kena perundungan, tidak peduli juga kamu kena scam, apalagi brain rot.

Cobalah untuk mengobrol dengan teman daripada bermain hp, ngobrolin apa saja. Atau melampun, mengamati sekitar, karena itu lebih baik. Atau mungkin sekedar mendengarkan lagu favoritmu sambil bernyanyi. 

Jadi, apakah otak kamu sudah membusuk?
Terima kasih telah melihat tulisan saya