Review Novel Perkumpulan Anak Luar Nikah - ahmad hanif

Review Novel Perkumpulan Anak Luar Nikah

Review Novel Perkumpulan Anak Luar Nikah

Perkumpulan anak luar nikah



Halo pemakan Gacoan level 1 sampe 2.  Kemarin aku beli novel, "Perkumpulan Anak Luar Nikah" karya Grace Tioso. Aku memilih buku ini karena di pojok atas kiri cover, ada label "Pemenang" Mizan Writing Bootcamp. Yang pastinya, nggak diragukan lagi kualitasnya. Di Goodread, buku ini punya rating bintang 4.5 ke atas.



Novel Perkumpulan Anak Luar Nikah cocok buat kamu yang lagi ngisi waktu luang atau nyari hiburan. Bacaannya nyantai, bahasanya ringan, timelinenya mudah dipahami, tapi pesan moralnya daging semua. 



Judul yang clickbait. "Perkumpulan Anak Luar Nikah," menurutmu isinya tentang apa? Kalau kamu pikir buku ini tentang anak-anak yang lahir tanpa ikatan, itu betul. Tapi ikatan yang dimaksud di sini adalah identitas anak. Ayah-ibunya jelas, tapi nggak diakui. Lahir di Indonesia, tapi sulit hidup.



Mereka adalah Chindo, keturunan Indonesia-Tionghoa. Buku ini nyeritain ibu rumah tangga yang bernama Martha. Setelah lulus kuliah di Singapura, hidup Martha sangat bahagia. Menikah dengan seorang dosen, punya 2 anak, dan tinggal di Singapura. Satu lagi, dia adalah orang dibalik akun Twitter yang bakal buat threads ketika pemilu/pilkada. @DuoLion163, namanya.



Tiba-tiba status quo Martha berubah. Media massa memberitakan Marta yang telah memalsukan salah satu dokumen syarat beasiswanya waktu kuliah. Pada akhirnya, Martha harus melangkah, menghadapi kesalahannya. Menurutku, ceritanya biasa aja dan bisa ditebak endingnya. Yang bikin novel Perkumpulan Anak Luar Nikah disukai pembaca itu pesan-pesan penulis. Di tulisan ini, aku mau ngasih beberapa pesan yang penulis sampein. 



Digital Footprint


Novel Perkumpulan Anak Luar Nikah diawali dengan pesan yang jelas, soal jejak digital. Dimana Martha ketauan memalsukan dokumen gara-gara jejak digital. Penulis ngingetin kita kalau jejak digital di masa depan bisa jadi hakim bagi kita. Bahaya jejak digital udah banyak kok, contohnya vuvu vava. Ya, hati-hati pakek media sosial.



Jangan gunakan media sosial untuk mengesankan orang, gunakan untuk mempengaruhi orang



Chindo


Diskriminasi sama orang-orang Chindo. Jaman dulu Chindo nggak dianggep di Indonesia. Lahir di Indonesia, nggak pernah ke luar negeri, tapi nggak diakui WNI. Aku pernah baca artikel soal Atlet-atlet bulutangkis Indonesia keturunan Tionghoa, yang juara dunia, yang masih kena diskriminasi. Pas juara diakui Indonesia, pas balik dicabut SBKRI nya (KTP jaman dulu). No room for racism.



Singapura


Novel Grace Tioso ini juga menggambarkan gimana bedanya kebiasaan peraturan atau hukum di Indonesia dan Singapura. Memalsukan dokumen, manipulasi data, ordal, suap menyuap, dll adalah hal yang lumrah di Indonesia. Tapi di negara dengan paspor terkuat di dunia ini, kebalikannya. Sangat disiplin, bahkan hal yang kita anggap wajar. Kayak, dilarang bawa durian di transportasi umum, dilarang memelihara ikan dan burung, dilarang kumpul lebih dari 3 orang kalau udah jam 10 malem, dan masih banyak lagi...



Maksud pesan penulis mungkin semoga Indonesia bisa mengadopsi sistem merit dan pragmatisnya. Nggak memandang suku, marga, atau seberapa banyak duit. Kalau salah ya dihukum, kalau nggak punya keterampilan ya sulit cari kerja, kalau cinta ya bilang aja... Sangat menjunjung tinggi rasionalitas. 



Ada banyak pesan moralnya. Tapi menurutku, gunain logika atau berpikir rasional itu jangan berlebihan. Harus dibarengin dengan kontrol emosi, empati, sama nurani. Kayak kasusnya pencuri cabai di Blitar. Karena nggak terima beberapa cabainya dicuri, pencuri dihukum untuk memakan cabai yang dicuri tadi. Ternyata dia mencuri 7 cabai untuk membuat sambal di rumah karena masalah ekonomi.



Dari segi moral, ini dilema. Kalau secara rasional, si pencuri salah. Kalau secara empati? 



Itu aja, saya beri rating (3)... Terima kasih.

1 komentar