Novel Cantik Itu Luka - ahmad hanif

Novel Cantik Itu Luka

Novel Cantik Itu Luka


Kemarin aku baru aja nyelesain novel karya Eka Kurniawan, judulnya Cantik Itu Luka. Buku yang mau aku bahas kali ini, bergenre fiksi sejarah. Dengan tebal 500 halaman, butuh waktu semingguan untuk tau endingnya.

 

Aku tertarik buat baca buku ini karena judulnya yang bikin kita mikir, apa sih cerita dibalik judul Cantik Itu Luka. Kok, kalimatnya aneh, kayak ada ketimpangan dibalik kata, cantik dan luka. Dan kalau liat judul novel ini, sebenernya kita udah bisa menangkap pesan yang ingin disampaikan penulis.

 

Pada intinya, buku ini menceritakan kisah Dewi Ayu, wanita cantik dan eksotis dari keluarga Indo-Belanda. Ketika, jepang masuk, dia dijajah, diperkosa, dijadikan pelacur sampai melahirkan empat anak tanpa tahu bapaknya siapa. 

 

Kehidupan kayak itu yang buat Dewi Ayu ngerasa khawatir, kecewa, muak. Begitu juga dengan nasib anak-anaknya yang cantik, karena lahir dengan takdir cantik di jaman banyak laki-laki mesum itu adalah kutukan.

 

Alur cerita campuran, kadang maju, kadang mundur. Tokoh dalam novel ini ada dua, yang ditindas dan yang menindas. Dengan bahasa yang lebih vulgar dan absurd, novel ini bisa buat kita tepuk tangan. Walaupun buku fiksi, tapi aku bener-bener ngerasa vivid, nyata gitu. 

 

Ada beberapa pesan moral yang aku tangkap dari novel Cantik Itu Luka. Kayak judulnya tadi, bahwa menjadi wanita cantik itu berat, apalagi hidup di lingkungan yang mesum. Perempuan yang cantik sering kali jadi objek eksploitasi, pelecehan ataupun kekerasan.

 

Kedua. Persoalan cinta. Laki-laki bisa mengeksploitasi perempuan. Sedangkan, perempuan bisa memainkan laki-laki. Kalau di cerita ini, kayak Dewi Ayu yang dipaksa jadi pelacur sama tentara jepang, dan anaknya Alamanda yang selalu memainkan perasaan laki-laki.

 

Ketiga. Pelacur. Kalau semua yang baik itu tidak bisa dibeli dengan penampilan, uang atau tahta. Kayak kutipan yang satu ini, “Semua perempuan itu pelacur, sebab seorang istri baik-baik pun menjual kemaluannya demi mas kawin dan uang belanja, atau cinta kalau ada”

 

Kutipan tadi, ngasih kita penjelasan kalau sebuah hubungan tanpa cinta itu seperti pelacur, bahkan yang udah nikah, semua atas dasar materi dan duniawi. Seorang pelacur berhubungan karena uang, terus apa sebutan buat perempuan yang kawin karena uang dan status sosial?

 

Nggak semua didasarkan pada cantik. Memuja-muja kecantikan, keeksotisan pada perempuan sama aja kayak memperkosa mereka. Menjadi penyakit bagi laki-laki. Begitu juga kayak perempuan yang memuja-muja harta dan tahta. 

 

Baiklah, itu aja yang bisa aku sampaiin. Sebenernya aku udah nulis review buku Lusi Lindri, tapi dokumennya hilang :( ... Selanjutnya, kalau ada buku bagus, bakalan aku tulis lagi di blog ini, dan sampai jumpa semuanya. 

Terima kasih telah melihat tulisan saya